Logika Simbolik

Tentunya kamu pernah menilai suatu hal sebagai benar dan hal lain sebagai salah. Apakah penilaianmu mengenai benar-salah bekerja secara sembarang, ataukah ada hukum-hukum yang mengaturnya?

Ilustrasi Wisata Toba
Bomi

Liburan kali ini, kita pergi ke Danau Toba yuk.

Siska

Wah! Asik! Aku ajak Mila juga ya! Mila sudah dari dulu ingin sekali pergi ke danau Toba.

Jeri

Sepertinya menyenangkan. Kapan kita akan berangkat ke Danau Toba?

Bomi

Danau Toba? Siapa yang mengajak ke sana?

Siska

Lho. Tadi kamu yang mengajak.

Jeri

Iya. Bagaimana sih kamu!

Bomi

Nggak, aku nggak ngajak.

Siska

...?

Bagaimana perasaanmu ketika ada temanmu yang mengatakan sesuatu, membuatmu bersemangat, tetapi sesaat kemudian menyangkali bahwa ia telah mengatakannya?

Jeri

Ya sudahlah. Kalau begitu kita ke Danau Tobi saja.

Siska

Iya, Danau Tobi juga menyenangkan! Kita ke sana aja yuk.

Bomi

Kalian ini bagaimana sih! Tadi aku ajak ke Danau Toba, sudah setuju, lalu sekarang bilang ke Danau Tobi.

Bomi membingungkan, bukan? Ia terus menerus mengubah pendiriannya. Ditambah lagi, ia serius. Ini membuat teman-temannya tambah bingung dan mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, Apakah Bomi mabuk? Kira-kira mengapa hal seperti ini membingungkan ya?

Orang yang berpikiran sehat dan berkesadaran penuh tunduk pada aturan-aturan tertentu dalam berpikir. Dalam hal ini kesehatan dan kesadaran Bomi patut dipertanyakan karena ada suatu aturan mendasar yang ia langgar dalam pembicaraan tersebut, yang disebut sebagai aturan konsistensi. Kita diciptakan dengan pikiran yang mencintai konsistensi, sehingga kita akan kebingungan dengan informasi yang saling bertentangan.

Mas Pikiran Manusia sudah lama menaksir Mbak Konsistensi, dan hari ini ia memutuskan untuk menyatakan cintanya.
Pikiran manusia mencintai konsistensi

Selain konsistensi, ada juga aturan-aturan lainnya yang mengendalikan cara kita berpikir. Keseluruhan aturan-aturan tersebut disebut sebagai logika, yang akan kita pelajari secara khusus dalam bagian ini.

Ditulis oleh
Ari Prasetyo
Ditulis pada
Terakhir diupdate
Dipublikasikan
Frase kunci
logika logika deduktif